Ketika Allah Menegur Dengan Seketika

AttaulKarim

Ada banyak cara Allah menegur hamba-Nya. Terkadang Allah menegur seketika itu juga. Kemarin merasa bangga dengan seragam baru yang dikenakan. Sempat terbersit, walau halus sekali, rasa sombong.

Hari ini, sebotol kecil tinta telah menumpahi rok, baju, dan jilbab seragam itu. Pakaian yang pernah jadi kebanggaan, bahkan terbersit pengen memamerkan (Astaghfirullah), seketika telah menjadi pakaian yang tak lagi indah dipandang. Tak seapik ketika awal pengen disombongkan. Setelah sombong, memulai hal tanpa menyebut asma-Nya, pada akhirnya bisa muncul teguran paling mengena. Ternyata, Allah minta lagi kenikmatan untuk mengenakan seragam yang seharusnya bisa dipakai setiap dua hari dalam sepekan.

Ketika di siang hari terlakoni perilaku yang tidak baik. Malam harinya, Allah ambil salah satu nikmat yang tiada tandingannya. Nikmat kebersamaan bersama-Nya. Nikmat bermunajat kepada-Nya, di waktu yang amat mustajab. Waktu yang ketika itu bahkan Allah turun. Seolah ingin menemani hamba-Nya yang sengaja membuka matanya untuk bertemu Rabbnya. Mengelus lembut hamba-Nya yang yang rela mengurangi waktu tidurnya, sembari berkata lirih, “Mohon ampunlah kepada-Ku, maka akan Aku ampuni kesalahanmu. Mintalah hanya kepada-Ku, maka akan Aku beri.”

Maka, siapa yang tidak sangat merugi ketika Allah ambil nikmat itu? Hamba mana yang tak bercucuran air mata ketika matanya membuka ketika fajar telah menampakkan kehadirannya? Tanda bahwa malam telah terlewati tanpa indahnya bermesra dengan Rabbnya.

Allahu Rabbi, ampuni hamba-Mu dengan segala dosa-dosa dan kekhilafannya.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Aku pernah terhalang (tidak bisa bangun) untuk mengerjakan shalat malam selama lima bulan disebabkan satu dosa yang telah aku lakukan.” Ditanyakan kepada beliau, “Dosa apakah itu?” Beliau menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki yang menangis, lalu aku katakan di dalam hatiku bahwa itu dilakukannya sebagai bentuk kepura-puraan saja.”

Pun Al-Hasan pernah berkata, “Tidaklah seseorang itu meninggalkan shalat malam kecuali karena dosa yang dilakukannya. Oleh karena itu, periksalah diri kalian setiap malam ketika matahari terbenam, kemudian bertaubatlah kepada Rabb kalian, agar kalian bisa mengerjakan shalat malam.”

Sedang Syeikh Ibrahim bin Adham pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam. Kemudian berkatalah beliau kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat di hadapan-Nya pada malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.”

Percayalah, selalu ada hikmah di setiap kejadian

Sumber: dakwatuna.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *